Pemuda GKJW Kepanjen, Sambut Baik Keputusan Munas NU

Pemuda GKJW Kepanjen, Sambut Baik Keputusan Munas NU

5 Mar 2019, 16.30
Loading...
Foto: Pemuda GKJW sambut baik hasil keputusan Munas Alim Ulama NU 2019

Malang satu - Pemuda GKJW Kepanjen menyambut baik hasil keputusan Munas Alim Ulama NU dan Konbes NU di Ponpes Miftahul Huda Al Azhar, Banjar, Jawa Barat, beberapa waktu lalu, yang menetapkan lima rekomendasi dimana salah satunya terkait dengan penyebutan kafir bagi warga negara yang tidak memeluk agama Islam.

Budy Wiryawan, tokoh pemuda GKJW Kepanjen, menyampaikan kepada malangsatu.net, pada prinsipnya kami sangat bersyukur atas hasil munas NU, terutama tentang rekomendasi  penyebutan kafir pada non muslim.

"Bagi kami yang di GKJW tidak kaget dengan keputusan Munas NU ini,  karena ini bukan hal baru bagi NU, memang selama ini NU sudah melihat bahwa yang harus dikedepankan adalah persaudaraan insaniyah dan persaudaraan wathoniyah. Jadi apa yang NU lakukan adalah penegasan saja terhadap sikap mereka selama ini," ungkap Iwan.

"Istilah atau penyebutan kafir pada non muslim, yang selama ini sering di lakukan sebagian teman-teman muslim, sebetulnya tidak masalah, yang menjadi masalah saat penyebutan kafir itu biasanya di sertai bully, tapi ini sebagian kecil aja," jelasnya

Dan yang jadi beban bagi umat non muslim terutama anak-anak yang di sekolah, sering di olok-olok "kafir" oleh teman-temannya, itulah yg menjadi keprihatinan kami, karena memang kami disini minoritas dan dengan adanya NU ini miniritas kristen sangat dihormati dan dilindungi, utama nya kami yang di GKJW.

"Bahkan saya masuk di komunitas GUSDURIAN Malang. Semoga hasil munas NU ini lahir dari hati yang paling dalam dengan semangat persaudaraan sejati," pungkasnya

Sedangkan Gus Fadil, ketua LBMNU Kabupaten Malang, menjelaskan bahwa apa yang diputuskan di Munas Alim Ulama itu merupakan penegasan terhadap sikap NU selama ini, bahwa NU dalam berbangsa dan berbegara sangat mengedepankan ukhuwah wathoniyah dan panggilan kafir terhadap non muslim itu merupakan panggilan atau sebutan yang egisentris.

"Secara aqidah kafir dan non muslim itu sama, sama-sama tidak menyembah dan mengingkari Alloh dan tidak mengimani Nabi Muhammad sebagai rosul, itu klir dan tidak ada upaya Ulama NU untuk mengubah surat alkafirun dalam al quran seperti yang ramai di media sosial itu," ungkapnya.

"Tapi dalam kontek berbangsa dan berbegara, baik muslim dan nonmuslim memiliki hak yang sama, dan sebutan kafir itu sangat terasa diskrimatif dan egosentris, maka NU tidak menggunakan sebutan kafir bagi non muslim dalam kontek ini dan referensi yang digunakan juga sangat jelas dari berbagai kitab ulama terkemuka," tambahnya

Ini lima rekomendasi Munas Alim Ulama dan Konbes NU:

1. Dalam sistem kewarganegaraan pada suatu negara bangsa (muwathonah, citizenship) tidak dikenal istilah kafir. Setiap warga negara memiliki kedudukan dan hak yang sama di mata konstitusi.

2. Berdasarkan konstitusi, Indonesia bukan darul fatwa, bukan negara agama. Maka tidak boleh ada lembaga yang mengeluarkan fatwa selain mahkamah agung (MA).

3. Money Game yang dikenal dengan sistem MLM (Multi Level Marketing) yang mengandung unsur tipu muslihat (ghoror), tidak transparan. dan syarat yang menyalahi prinsip akad sekaligus dari transaksi yang berupa bonus yang bukan barang maka hukumnya haram.

4. Sampah plastik yang sudah menjadi persoalan dunia disebabkan oleh faktor industri clan rendahnya budaya masyarakat menyadari resiko bahaya sampah plastik.

5. Mengoptimalisasi peran NU turut serta menyelesaikan konflik internasional dan mewujudkan perdamaian dunia dengan konsep Islam Nusantara. (*)

TerPopuler