Mengganti Kafir Dengan Non Muslim

Mengganti Kafir Dengan Non Muslim

3 Mar 2019, 18.17
Loading...
Foto: Zulfan Syahansyah (Dosesn ASWAJA Pasca Sarjana Unira Malang)
Malang Satu - Pro dan kontra mengenai usulan NU hasil Munas beberapa hari lalu, tentang penggantian istilah "kafir" dengan "non-muslim" kian ramai dan terus bermunculan. Yang setuju banyak. Tapi yang tidak juga banyak. Begitulah penulis melihatnya dari laman komentar di status FB pribadi.

Catatan ini secara khusus jawaban komentar para penentang usulan NU tersebut. Utamanya bagi pihak yang menggunakan ayat-ayat Al-Qur'an sebagai hujjah, hingga menganggap usulan NU itu ingin "mengamandemen" Al-Qur'an. Secara khusus surat Al-Kafirun.
Benarkah demikian? 
Berikut catatan penulis menjawab penolakan mereka.

Termasuk dalam cakupan da'wah bilhikmah wal mau'idzah hasanah, serta etika adu argumen dengan cara yang paling baik (بالتي هي أحسن) adalah tidak mengatakan lawan bicara dengan sebutan "kafir", meski sebenarnya dia memang kafir. Apalagi kepada para Ahlul Kitab (Nasrani dan Yahudi). Kenapa demikian? Setidaknya karena dua alasan berikut:

Pertama, istilah "kafir/kuffar" mengandung banyak arti. Salah satunya berkaitan dengan aqidah dan keyakinan. Yakni, orang kafir itu adalah dia yang menyangkal adanya Tuhan, para rasul dan akhirat. 

Faham materialisme masuk dalam jenis kekafiran ini.  Mereka tidak beriman kepada segala sesuatu yang gaib; tidak percaya adanya Tuhan, kenabian, juga Hari Akhir.

Ahlul Kitab (Yahudi dan Nasrani) tidak termasuk kekafiran jenis ini. Hal itu karena kaum Yahudi dan Nasrani meyakini adanya Tuhan. Mereka mempercayai kenabian, serta yakin adanya Hari Akhir. Hanya saja, kelompok Ahlul Kitab ini mengingkari risalah Nabi Muhammad SAW. Mereka mengingkari agama Islam. 

Dalam konteks aqidah Islam, mereka juga kafir; karena mendustai ajaran Islam. Sebagaimana kita juga dianggap kafir oleh mereka, karena  mengingkari agama dan keyakinan yang mereka anut saat ini.

Alasan kedua, karena Al-Qur'an sendiri telah mengajari kita agar tidak berkata kepada sesama -meskipun dia sendiri yang kafir- dengan sebutan "kafir". 

Khitab Al-Qur'an kepada manusia yang bukan mukmin, adakalanya dengan "ya ayyuhannas", atau "ya Bani Adam", atau "ya ibadi", atau "ya Ahlal Kitab".

Dalam Al-Qur'an hanya ada dua ayat yang secara langsung menggunakan khitab "kafir". Yakni di At-Tahrim: 7, dan surat Al-Kafirun.

Allah berfirman:
{يَا أَيُّهَا الَّذِينَ كَفَرُوا لَا تَعْتَذِرُوا الْيَوْمَ ۖ إِنَّمَا تُجْزَوْنَ مَا كُنتُمْ تَعْمَلُونَ}
"Hai orang-orang kafir, janganlah kamu mengemukakan alasan pada hari ini. Sesungguhnya kamu hanya diberi balasan sesuai apa yang kamu kerjakan"

Dan yang kedua, firman-Nya:
{قُلْ يَا أَيُّهَا الْكَافِرُونَ (1) لَا أَعْبُدُ مَا تَعْبُدُونَ (2) وَلَا أَنْتُمْ عَابِدُونَ مَا أَعْبُدُ (3) وَلَا أَنَا عَابِدٌ مَا عَبَدْتُمْ (4) وَلَا أَنْتُمْ عَابِدُونَ مَا أَعْبُدُ (5) لَكُمْ دِينُكُمْ وَلِيَ دِينِ (6)}
"Katakanlah (Muhammad): Hai orang-orang kafir, aku tidak akan menyembah apa yang kalian sembah. Dan kalian bukan penyembah Tuhan yang aku sembah. Dan aku tidak pernah menjadi penyembah apa yang kalian sembah. Dan kalian juga bukan penyembah Tuhan yang aku sembah. Bagi kalian agama kalian, dan bagiku agamaku"

Khitab ayat-ayat tersebut adalah kaum musyrikin penyembah berhala yang mencoba menogo Nabi agar mau menyembah sesembahan mereka selama setahun, dan mereka juga siap menyembah Tuhan Nabi dalam kurun waktu yg sama.

Maka turunlah surat Al-Kafirun dengan gaya bahasa yang keras, serta menggunakan khitab yang tegas, untuk menolak tawaran mereka tadi. Ajaran Islam tegas; tidak boleh ada kompromi dalam sesembahan. 

Itulah sebabnya wahyu yang turun menggunakan khitab "kafir". Sebagai jawaban keras dan tegas dari Nabi kepada mereka. Dan sedemikian tegasnya, hingga ayat-ayat dalam surat Al-Kafirun diulang-ulang.

Meski demikian, surat Al-Kafirun diakhiri dengan  kalimat yang tetap mengedepankan aspek toleransi, sebagaimana firman-Nya:
{لكم دينكم ولي دين} 

Waba'du, dari penjelasan di atas, bisa difaham bahwa termasuk ajaran Islam adalah tidak mengatakan orang/kelompok yang berbeda agama dan keyakinan dengan sebutan "kafir/kuffar/kafirun". Kecuali dalam dua hal: ketika umat Islam diajak berkompromi oleh non-muslim untuk saling bergantian dalam sesembahan, sebagaimana kasus yang dialami Nabi saat di Makkah. Dan yang kedua, saat nanti di Akhirat. Untuk alasan kedua ini tentu hanya menjadi hak dan wewenang Allah semata. Kita tidak mungkin; sibuk dengan hisab masing-masing.

Maka, tanpa dua alasan tersebut, tidak boleh umat Islam menyebut "kafir" kepada mereka yang bukan muslim. Pekai saja istilah "Non-Muslim". Itu sudah cukup. Jika masih ngotot berkata kepada non-muslim dengan sebutan kafir, maka sejatinya orang itu sudah menentang ajaran dalam Al-Qur'an. Na'udzubillahi min dzalik.

Akhirnya, NU layak mendapatkan apresiasi yang setinggi-tingginya atas usulan mengganti istilah "kafir" dengan "non-muslim". Harus diakui, secara kelembagaan, hanya NU yang berani bersikap demikian. Adapun para ulama NU, secara individu tentu sudah memahami sejak lama. 
Wallahu a'lam bissawab

Penulis: Zulfan Syahansyah

TerPopuler