KAFIR DAN NON-MUSLIM: Panggilan Egosentris Vs Panggilan Beretika

KAFIR DAN NON-MUSLIM: Panggilan Egosentris Vs Panggilan Beretika

5 Mar 2019, 23.22
Loading...


Berangkat dari keputusan Munas NU yang diadakan di kota Banjar Jawa Barat beberapa waktu lalu, mari sejenak kita gunakan akal sehat untuk menelaah, jangan sampai  salah fokus, sehingga akhirnya  gagal paham.

Kafir adalah orang yang menyembah selain Allah. Non muslim adalah orang yang menyembah selain Allah. Sama-sama menyembah selain Allah. Lantas di mana perbedaannya?

Baik, mari kita perinci bersama. Secara kitab fikih, orang kafir sendiri dikelompokkan menjadi empat golongan.

1. Kafir Harby. Non-muslim yang boleh diperangi, sebab mereka memerangi umat Islam. Contohnya bangsa Yahudi di Israel
2. Kafir Dzimmi. Non-muslim yang membayar jizyah atau pajak demi mendapatkan perlindungan. Sementara mereka tidak boleh diperangi. Contohnya, non-muslim di negara Islam seperti Saudi Arabia.
3. Kafir Mu'ahad. Non-muslim yang melakukan perjanjian damai dalam beberapa tahun. Dan tidak boleh diperangi.
4. Kafir Musta'man. Non-muslim yang meminta perlindungan.

Dari ke empat golongan kafir tersebut, kira-kira masuk dalam kelompok nomor berapakah non-muslim di Indonesia?

Non-Muslim Indonesia tidak masuk kelompok manapun. Kenapa? Karena sebagai negara bangsa yang majemuk, non-muslim di Indonesia tidak memiliki ciri-ciri dari empat golongan di atas. Non-muslim di Indonesia adalah warga negara yang memiliki kebebasan yang sama, memiliki hak dan melaksanakan kewajiban yang sama sebagai warga negara.

bahkan ada keterangan dari kitab ASHABUS SYAFI'IYYAH dalam kitab Tuhfatul Muhtaj.
تحفة المحتاج 9 ص 287
( وَتُؤْخَذُ الْجِزْيَةُ ) مَا لَمْ تُؤَدَّ بِاسْمِ الزَّكَاةِ . ( بِإِهَانَةٍ فَيَجْلِسُ الْآخِذُ وَيَقُومُ الذِّمِّيُّ وَيُطَأْطِئُ رَأْسَهُ وَيَحْنِي ظَهْرَهُ وَيَضَعُهَا فِي الْمِيزَانِ وَيَقْبِضُ الْآخِذُ لِحْيَتَهُ وَيَضْرِبُ ) بِكَفِّهِ مَفْتُوحَةً . ( لِهْزِمَتَيْهِ ) بِكَسْرِ اللَّامِ وَالزَّايِ وَهُمَا مُجْتَمَعُ اللَّحْمِ بَيْنَ الْمَاضِغِ وَالْأُذُنِ مِنْ الْجَانِبَيْنِ أَيْ كُلًّا مِنْهُمَا ضَرْبَةً وَاحِدَةً وَبَحَثَ الرَّافِعِيُّ الِاكْتِفَاءَ بِضَرْبَةٍ وَاحِدَةٍ لِأَحَدِهِمَا قَالَ جَمْعٌ مِنْ الشُّرَّاحُ : وَيَقُول لَهُ يَا عَدُوَّ االلهِ أَدِّ حَقَّ اللهِ . ( وَكُلُّهُ ) أَيْ مَا ذُكِرَ . ( مُسْتَحَبٌّ وَقِيلَ : وَاجِبٌ ) ; لِأَنَّ بَعْضَ الْمُفَسِّرِينَ فَسَّرَ الصَّغَارَ فِي الْآيَةِ بِهَذَا . ( قُلْت هَذِهِ الْهَيْئَةُ بَاطِلَةٌ ) إذْ لَا أَصْلَ لَهَا مِنْ السُّنَّةِ وَلَا فَعَلَهَا أَحَدٌ مِنْ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِينَ وَمِنْ ثَمَّ نَصَّ فِي الْأُمِّ عَلَى أَخْذِهَا بِإِجْمَالٍ أَيْ بِرِفْقٍ مِنْ غَيْرِ ضَرَرِ أَحَدٍ وَلَا نَيْلِهِ بِكَلَامٍ قَبِيحٍ ( وَدَعْوَى اسْتِحْبَابِهَا ) فَضْلًا عَنْ وُجُوبِهَا ( أَشَدُّ خَطَأً وَاللهُ أَعْلَمُ ) فَيَحْرُمُ فِعْلُهَا عَلَى الْأَوْجَهِ لِمَا فِيهَا مِنْ الْإِيذَاءِ مِنْ غَيْرِ دَلِيلٍ

Pengambilan jizyah dari kafir dzimmi harus dengan cara yang menghinakan mereka yaitu : Penerima dalam posisi duduk sementara si kafir dalam posisi berdiri dan menundukkan kepala seraya membungkukkan punggung, sementara penerima memegang jenggot si kafir dan memukul bagian wajahnya dan berkata : “wahai musuh Alloh, bayarlah haq Allah atasmu !”. perlakuan ini hukumnya sunnah bahkan menurut sebagian pendapat adalah wajib.

Akan tetapi, biarpun mereka tidak termasuk salah satu dari empat kategori tersebut, bukan berarti mereka bukan kafir. Status mereka tetap kafir. Selama mereka tidak menyembah Allah, secara akidah mereka adalah kafir.

Namun yang harus digaris bawahi di sini adalah, status kekafiran mereka tidak sepatutnya dimunculkan dalam konteks sosial kemasyarakatan. Artinya, jika Anda seorang muslim yang baik, Anda tidak akan secara terang-terangan memanggil tetangga Anda yang non-muslim dengan panggilan yang cukup sensisif. Seperti, "Hei Kafir." 

Mendengar panggilan tersebut, kira-kira apa reaksi tetangga Anda tersebut? Tentu saja marah. Sebab kata kafir itu dalam standar umum yang berlaku dianggap sebagai sesuatu yang buruk. Seperti gendut, pendek,  pesek, dan lain-lain. Jangan-jangan kemarahan non-muslim tersebut malah berdampak pada intoleran dan perpecahan.

Ada yang nyeletuk seperti ini, "Kalau tidak mau dipanggil kafir, ya, harus masuk Islam!"

Itu namanya egois, pemaksaan. Jangan-jangan nanti malah muncul wacana seperti ini, "Pokoknya yang non-muslim, bom!"

Non-muslim adalah orang kafir secara akidah, yang barangkali belum dapat hidayah, atau belum tahu bahwa hanya Allah-lah satu-satunya yang wajib disembah. Jadi, janganlah secara terus terang mengucapkan kata-kata kafir di hadapan mereka secara langsung, meski sehakikatnya memang demikian. Sebab dikhawatirkan menimbulkan rasa sakit.

وَفِي الْقُنْيَةِ مِنْ بَاب الِاسْتِحْلَالِ وَرَدِّ الْمَظَالِمِ لَوْ قَالَ لِيَهُودِيٍّ أَوْ مَجُوسِيٍّ يَا كَافِرُ يَأْثَمُ إنْ شَقَّ عَلَيْهِ. اهـ. وَمُقْتَضَاهُ أَنْ يُعَزَّرَ لِارْتِكَابِهِ مَا أَوْجَبَ الْإِثْمَ. البحر الرائق، ٥/ ٤٧.

"Dalam kitab Al Qunyah dari Bab Al Istihlal dan Raddul Madhalim terdapat keterangan: "Andaikan seseorang berkata kepada Yahudi atau Majusi: 'Hai Kafir', maka ia berdosa jika ucapan itu berat baginya (menyinggungnya).

Kesimpulannya, persamaan antara kafir dan non-muslim adalah dari segi akidah, sama-sama tidak menyembah Allah. Dan perbedaan antara kafir dan non-muslim ada pada konteks negara bangsa.

Jadi sudah sangat jelas, Keputusan Munas Alim Ulama NU sudah sedemikian detail.

Jangan lagi bawa-bawa surat al-Kafirun, bahkan sampai menganalogikan redaksinya menjadi, "Wahai orang-orang non-muslim." 

Itu kalam Allah,  Sifatnya bisa universal. Maksudnya, siapapun bisa menjadi orang kafir selama Allah berkehendak.

Saya jadi teringat salah satu lirik dalam Syi'ir Tanpo Wathon yang sangat populer itu. Yang bunyinya seperti ini, Akeh kang apal qur'an-haditse. Seneng ngafirke marang liyane. Kafire dewe gak digatekke. Yen iseh kotor ati akale.

Syi'ir berbahasa Jawa itu sepertinya begitu pas mewakili sesiapa yang merasa sombong dengan keimanannya saat ini, serta egois, sehingga tidak perlu menjaga toleransi berbangsa dan bernegara.

Pesan saya, di zaman serba digital saat ini, jadilah netizen yang cerdas, atau setidaknya jangan mudah terhasut oleh isu yang Anda sendiri belum paham, atau belum menelaah lebih jauh. 

WaAllohu A'lam Bish-Showab.

M. Fadil Khozin M.Pd
Ketua LBMNU Kab. Malang

TerPopuler