Wahabi Bukan Ahlussunah

Wahabi Bukan Ahlussunah

16 Feb 2019, 18.53
Loading...

Malang Satu – Jika ditanya apa perbedaan mendasar antara AHLUSSUNNAH dan lainnya?

Maka mula-mula penulis akan jawab: "lainnya" itu adalah khawarij dan Syi'ah.

Tentang Syi'ah, tidak perlu dibahas lagi. Aqidah dan faham keagamaan mereka sudah sangat menyimpang, dahiran wa bathinan. Catatan penulis di akun Facebook, berjudul "Lebih Mengenal Syi'ah" empat seri, mengulas apa dan bagaimana sebenarnya aliran yang tercatat ada 19 ajaran yang menyimpang dari ajaran Islam pada umumnya.

Sedangkan perbedaan AHLUSSUNNAH dengan Khawarij, memang agak samar. Maksudnya begini: secara dahir hampir sama, namun secara hakekat sangat jelas berbeda.

Hakekat AHLUSSUNNAH adalah mengakui risalah dan membenarkan ajaran beliau. Serta, -ini yang tidak kalah penting- memuliakan Nabi SAW, baik di masa kehidupan dunia, juga setelah kembalinya beliau ke sisi Allah SW, yakni meyakini hakekat Rasulullah SAW.

Dalam aspek memuliakan Nabi inilah yang membedakan antara AHLUSSUNNAH dan Khawarij, atau kelompok muslim yang sealiran.

Saat di dunia, semua Sahabat menjaga akhlaq serta memuliakan beliau SAW. Kecuali, segelintir orang yang menunjukkan su'ul adab kepada Nabi. Di antara mereka ada Dzul Khuwaisirah yang meragukan sikap adil Nabi, hingga menyuruh beliau SAW untuk membagikan harta rampasan perang dengan adil. Ada juga Al-Hakam.

Orang-orang yang bersikap kurang ajar kepada Nabi inilah yang disinyalir oleh Nabi sebagai golongan Khawarij (yang keluar) dari kelompok umat Islam pada umumnya.

Itu dimasa kehidupan Nabi bersama para sahabat. Apakah cukup di sini? Tidak. Setelah Nabi berpindah ke Rahmatullah, benih su'ul adzab dari sebagian umat Islam masih berlanjut. Anggapan bahwa Rasulullah sudah mati, dan tidak lagi bisa mendatangkan manfaat adalah contoh su'ul adzab kepada beliau, yang buntutnya menafikan hakekat Rasulullah SAW.

Karena menganggap Nabi sudah mati, maka umat Islam yang bertawassul kepada Rasulullah dianggap kafir. Ziarah ke makam beliau, dianggap menyimpang. Bersolawat kepada Nabi pun dianggap lebih besar dosanya dari pada orang yang main musik di rumah bordil, alias lokalisasi.

Buntutnya, mereka juga mengkafirkan umat Islam yang bertawassul kepada para wali, dan kaum Solihin.

Waba'du, tahukah anda pemahaman dan ajaran siapa seperti dimaksud?
Itu adalah ajaran yang dilahirkan dari Taqiyuddin Ibnu Taimiyah. Kemudian  dikembangkan oleh Muhammad bin Abdul Wahhab, dan akhirnya  dikenal dengan faham Wahabi. Dan salah satu tokoh Wahabi selain Muhammad bin Abdul Wahhab adalah Albani.

Berlandaskan pemahaman di atas, jelas sudah bahwa Wahabi bukanlah termasuk AHLUSSUNNAH. Kenapa? Karena Faham Wahabi pada dasarnya menafikan hakekat Rasulullah SAW.

Dan karena sudah jelas bukan termasuk AHLUSSUNNAH, maka sangat naif jika pengikut faham Wahabi mengaku kelompok SALAFI.

Kalau ada pihak yang mengharamkan bertawassul kepada Nabi, lantas mengaku sebagai kelompok Salafi, pastinya mereka tidak mengerti sejarah, dan bahkan keberagamaannya hanya sekedar ikut-ikutan saja, alias taqlid buta. (*)

Wallahu a'lam bissawab.

*Penulis : DR. Zulfan Syahansyah, Dosen Ahlussunah Wal Jamaah Pasca Sarjana Unira Malang 

TerPopuler