Tiga Macam Cinta | Malang Satu
Cari Berita

Advertisement

Tiga Macam Cinta

Malang Satu Net
7 Feb 2019



Malang Satu – Cinta dunia: para pencinta dunia hanya membicarakan masalah dunia. Cinta mereka ini adalah cinta duniawi.

Cinta akhirat: para pencinta akhirat hanya membicarakan seputar akhirat. Cinta mereka disebut cinta ukhrawi.

Cinta Allah: pencinta Allah senantiasa berbicara tentang Allah SWT. Cinta kelompok ini disebut cinta ilahi.

Cinta ilahi dibagi dua, yakni cinta ilahi kasabi (didapat dengan hasil usaha seorang hamba), dan cinta ilahi wahabi (murni merupakan anugrah ilahi).

Cinta ilahi kasabi berasal dari alam al-khalqi (alam manusia), yakni satu alam yang membutuhkan sebab untuk satu akibat.

Cinta ilahi kasabi bisa didapat, adakalanya dengan fokus pada keindahan, karena pada dasarnya, keindahan itu sendiri dicintai oleh Allah SWT. Baik itu keindahan pada makhluk, peringai, serta akhlaq.

Sabda Nabi: {إن الله جميل يحب الجمال} "Allah adalah Dzat Yang Maha indah, dan Dia mencintai keindahan" Atau bisa juga dengan cara fokus pada upaya berbuat kebajikan. Termasuk fitrah manusia, mencintai siapa saja yang berbuat baik kepadanya.

Dan tatkala semua keindahan yang ada di alam semesta ini merupakan setetes dari lautan keindahan ilahi; dan Dialah Allah, Dzat Yang Maha berbuat baik bagi seluruh makhluk dengan kebaikan yang sempurna, maka tatkala itu jugalah, sejatinya hanya Allah yang berhak mendapatkan cinta kasabi dari setiap hamba-Nya.

Akan tetapi cinta kasabi yang diperoleh karena satu sebab, bisa berubah seiring perubahan sebab tersebut. Cinta kasabi bersifat labil. Tidak jejeg. Dan Allah SWT membolak balikkan hati para pencinta kasabi ini. Semuanya berada dalam gemgaman-Nya.

Adakalanya mereka diberi kesusahan, atau kegembiraan; ketakutan, atau harapan; kakhawatiran, atau disenangkan; diberi kenikmatan, atau terambil kenikmatannya; disatukan, atau dipisahkan; difanakan, atau dilanggengkan; semua keadaan datang silih berganti hingga benar-benar bisa dipastikan keikhlasan hati seorang hamba.

Dan ketika itulah, terkadang Allah menyiapkan satu cinta yang agung (hubb akbar). Itulah cinta wahabi. Cinta wahabi adalah wujud cinta dari alam al-amri (alam ilahi). Yakni satu cinta yang diberikan oleh Allah tanpa satu sebab apapun.

Cinta wahabi tidak akan pergi meninggalkan hamba tersebut selamanya. Bahkan meskipun sang hamba tersebut berupaya melalikan Allah barang sekejap, dia tidak akan bisa melakukannya.

Cinta wahabi menyatu dalam semua sendi diri hamba tersebut, bahkan meski ajal telah menjelang, tubuh orang tersebut tetap hidup dengan cinta wahabi itu, dan jasadnya tidak rusak dimakan tanah.

Orang-orang yang dianugrahi cinta (Ahlu Al-Hubb) wahabi adalah mereka yang berjalan (salikun) dari, kepada dan dalam Dzat Allah SWT. Sedangkan yang dianugrahi cinta (Ahlu Al-Hubb) kasabi, mereka berjalan (salikun) dari, kepada, dan dalam diri mereka sendiri.

Ahlu Al-Hubb Al-Wahabi merdeka dari dunia dan akhirat. Mereka masuk ke dalam dunia, namun merdeka dari (kungkungan) duniawi. Kamudian menuju akhirat, meraka juga merdeka dari (permasalahan) ukhrawi. Allah berfirman: {أو من كان ميتا فأحييناه} "Dan apakah orang yg telah mati kemudian Kami hidupkan.." (QS. Al-An'am: 122) Ahli duniawi akan mati, dibandingkan ahli akhirat. Ahli akhirat mati, dibandingkan ahlullah.

Ahli cinta kasabi mati dibandingkan ahli cinta wahabi. Orang-orang yang dianugrahi cinta wahabi hidup secara hakekat, dan mereka tidak akan merasakan kematian. Firman-Nya: {وجعلنا له نورا يمشي به في الناس} "Dan kami jadikan diri (orang yg sdh mati) sebagai cahaya, dimana dengannya dia berjalan di tengah-tengah manusia" (Al-An'am: 122) Yakni cahaya mereka membawa mereka. Bukan berjalan sendiri. Allah tidak menyatakan mereka berjalan "bersama manusia", karena cahaya mereka dapat membakar hati orang-orang yang masih di dunia. Akan tetapi Allah nyatakan berjalan "dalam manusia".

Kata "fi" (di dalam) pada ayat di atas bermakna dharafiyyah. (فأهل الحب، هم اهل الله الذي يصفو بهم كل شيئ ولا يكدرهم شيئ) Ahli cinta adalah ahlullah, dimana segala sesuatu menjadi jernih ketika bersama mereka. Dan tiada satu apapun yang bisa mencemari mereka. (*) 

*Penulis : Dr.Zulfan Syahansyah (Dosen Ahlussunah Wal Jamaah Pasca Sarjana UNIRA Malang)