Program Madin Jadi Unggulan, Tunggu RUU Pesantren Disahkan

Program Madin Jadi Unggulan, Tunggu RUU Pesantren Disahkan

15 Feb 2019, 14.11
Loading...

Malang Satu – Rapat Forum Komunikasi Diniyah Ta’miliyah (FKDT) Kabupaten Malang, beberapa waktu lalu menyimpulkan, peningkatan program diniyah harus terus ditingkatkan.

Dalam pertemuan FKDT di Ponpes Darunnajah, Desa Putukrejo, Kecamatan Gondanglegi, Kabupaten Malang, dihadiri 40 Korwil se Malang Raya.

Kata Gus Nasrul, Ketua FKDT Kabupaten Malang, berharap FKDT lebih kompak lagi dalam rangka memajukan Program Diniyah di Kabupaten Malang.

“Program Diniyah sangat penting untuk memperbaiki sistem pendidikan nasional saat ini,” terang Gus Nasrul, Jumat (15/2/2019).

Ditempat yang sama, Anggota Pengkajian Konstitusi (Lemkaji) MPR RI, Hasanuddin Wahid usai pertemuan memaparkan, agar pemerintah dalam hal ini Kemenag, untuk merombak Kurikulum diniyah. Dimana prosentasenya yakni 60 persen nasional dan 40 persen muatan lokal.

“Muatan lokalnya, harus disesuaikan dengan karakteristik daerah masing-masing,” urainya.

Cak Udin sapaan akrab Hasanudin Wahid menambahkan, peranan FKDT cukup signifikan dalam mengembangakan pendidikan agama di Indonesia, khususnya di Malang Raya.

“Perlu kiranya pemerintah memberikan perhatian yang sama layaknya pendidikan formal, karena selama ini perhatian pemerintah masih sangat minim. Oleh karena itu, melalui fraksi PKB kami sebenarnya turut serta mengusulkan rencana undang-undang pesantren dan program keagamaan untuk segera dibahas oleh DPR RI,” paparnya.

Cak Udin melanjutkan, setelah melalui pengkajian yang cukup mendalam, akhirnya RUU Pesantren dan Program Keagamaan disetujui intuk dibahas.

“RUU ini jika sudah menjadi UU akan menjadi payung hukum pemerintah untuk memperhatikan program diniyah. Dimana nantinya penganggaranya masuk di APBN dan APBD. Jika ini sudah bisa diwujudkan, maka amanah UU Sisdiknas 20 persen untuk pendiidkan dapat mengalokasikan untuk program diniyah. Ini sangat penting, karena untuk memenuhi kebutuhan pendidikan agama di Indonesia, Program Madin menjadi salah satu alternatif,” pungkasnya. (yog)

TerPopuler