Polarisasi Bong Pret

Polarisasi Bong Pret

7 Feb 2019, 23.46
Loading...

Malang Satu – Sudah empat bulan lebih pasangan itu tidak saling sapa. Satu rumah. Bayangkan betapa tidak nyamannya suasana rumah itu.

Kawan yang lain beda lagi. Empat tahun terakhir semangat sekali unfriend ratusan teman. Edisi bersih bersih katanya. Temannya dianggap kotoran.

Sejak 2012 hati anak negeri mulai menghangat. Lalu 2014 berubah memanas. Malah setahun ini makin mendidih. Baku bunuh paska saling caci di medsos di Madura. Mayatpun jadi sasaran dendam. Bongkar makam buntut beda pilihan politik di Gorontalo.

Perang Khandaq didahului dengan duel satu lawan satu. Amr bin Abd Wad nama jagoan kubu Mekkah. Ksatria pihak Madinah diwakili Ali bin Abi Thalib. Sengit. Sama hebat. Pedang berkelibat. Amr jatuh. Kalah. Posisi Ali menang. Sekali ayunan lagi, Amr mati. Tiba tiba dia meludahi Ali bin Abi Thalib.

Bukannya segera menghabisi, Ali malah menurunkan pedang sejenak. Orang bertanya kenapa. Tak disangka alasannya. "Dia meludahiku. Itu membuatku marah. Aku tidak mau membunuh orang karena marah. Aku berperang karena Allah semata". Ali mampu memisahkan mana subyektifitas dan ego nafsu dan mana obyektifitas perjuangan.

Kebencian itu membutakan. Banyak teman yang dulu cendekia. Suhu politik ini membuatnya bahlul. Buta fakta, berpaling dari dunia nyata. Mengunci rapat rapat tempurungnya. Jurus yang dipakai "pokoke". Ngotot, nyolot dan kolot. Tidak mau kalah, tidak siap salah. Sikap ini melahirkan balasan. Ada aksi ada reaksi. Pihak lawan pun jadi ketularan.

Politik yang sehat itu mencerahkan. Bukan menceraikan. Wadah dialektika cerdas orang waras. Bukan debat kusir kaum pandir. Ini debat andragogi orang dewasa. Mau mendengar, mampu mencerna. Bukan adu mulut anak TK. Minta didengar, gemar menyela.

Jangan membenci atau mencintai secara terlalu. Siapa tahu musuhmu bisa jadi temanmu kelak. Atau sebaliknya. Adil itu wajib dalam segala kondisi. Adil itu bukan hanya tuntutan bagi penguasa. Rakyat juga kudu adil dalam melihat, menganalisa dan memilih. Allah berfirman dalam QS. 5:8 :

"Wahai orang-orang yang beriman jadilah kamu sebagai penegak keadilan karena Allah (ketika menjadi saksi dengan adil). Dan janganlah kebencianmu terhadap suatu kaum mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah. Karena (adil) itu lebih dekat kepada taqwa. Dan bertakwalah kepada Allah. Sungguh, Allah Maha Mengetahui terhadap apa yang kamu kerjakan".

"Tapi gus, ini tentang bangsa, keselamatan negara". Iya, sepakat. Kesalahan memilih memang akan berdampak baik dan buruk. Tapi lebih buruk lagi adalah perpecahan penghuni negeri. Sepenting apapun pilpres ini tidak bisa mengalahkan pentingnya persaudaraan anak bangsa. Sesama anak cucu Adam.

Pasti ada yang tepuk tangan. Sukses gembira menyaksikan huru hara. Dalang dari semuanya. Yang telah lama ingin kita terlena. Menabur toxin micin dalam minuman informasi. Jangan biarkan mereka menang. Mereka ingin kita pecah centang perentang. Lawan itu. Perjuangkan pilihanmu dengan merangkul. Hadapi pukulan amarah dengan pelukan rahmah.

Saya tak akan bosan mengkampanyekan ini. Musuh kita hanya satu. Setan. Dan itu di hati kita masing masing. Jangan mau jadi proxy. Dibenturkan sesama bangsa manusia hanya karena hajatan 5 tahunan. Monggo saja menyuarakan pilihan. Kampanyekan alasan. Gunakan frasa yang santun. Hindari bahasa penyamun. Ini bukan kebun binatang. Kita bukan kumpulan dukun cenayang.

Jikapun harus berdiskusi sampai berdarah darah, dinginkan otak. Lebih penting pastikan dulu kita punya otak. Suhu yang adem memampukan otak membuka kemungkinan adanya kebenaran lain di luar kebenaran yang lama kita yakini. Jangan tabukan peralihan pilihan. Mengubah sudut pandang itu bukan aib. Mengakui kebenaran pihak lain itu baik.

Mempertahankan pilihan keliru cuma karena keterlanjuran, akan menjerumuskan sampean lebih dalam lagi ke lubang kedunguan. Besarnya ego tak memberi manfaat apa-apa. Justru hanya akan mengikis kewarasan. Rangkul lawan sampean. Semua orang punya potensi baik. Sadarkan mereka dengan kasih sayang. Hindari cacian. Tidak ada orang sadar karena dicaci.

Mereka itu saudaramu yang kau sangka musuhmu. Burung kecil dicengkeram kucing. Pukul kucingnya, biar lepas burungnya. "Lawan politikmu" itu sejatinya sesamamu yang dicengkeram setan. Apes. Adukan kondisi itu pada Tuhan. Doakan mereka agar Allah memukul setannya, sadar manusianya. Lepas dari tempurung yang mengungkungnya.

Katanya muslim kok mencela. Dengan sebutan binatang pula. Cebong Kampret. Dilarang Quran itu. Apapun alasannya. Apalagi sekedar pilpres. Gimana mau menyadarkan kalau sampean membenci mereka. Binatang tak mempan diingatkan. Manusia sadar dengan lisan dan tulisan. Itu bedanya. Maka, perlakukan mereka sebagai manusia, bukan binatang. Supaya "musuhmu" itu jadi saudaramu.

Dulu para sahabat Nabi sering berbeda pendapat. Tajam. Toh mereka rukun rukun saja. Padahal tentang agama. Pun para imam madzhab. Ikhtilaf dalam banyak hal. Bisa tetap saling menghormati. Silaturrahmi jalan. Terdekat, kita juga punya para founding father negeri ini. Debat sengit di forum diskusi. Di luar, minum kopi bareng.

Saya mendukung dialog yang sehat. Silahkan beradu argumen. Asal jangan bawa palu sentimen. Kedepankan idealisme sehat bukan fanatisme sesat. Pilpres akan usai beberapa bulan lagi. Relakah sampean persahabatan sampean juga berakhir beberapa bulan lagi? Masak sampean terima kedamaian keluarga direnggut oleh para paslon pilpres ?

Jangan salah. Saya juga memilih dan punya pilihan. The best among the worst. Netral itu tetap memihak. Pada pilihan yang terbaik. Netral itu memilih tanpa tekanan. Lepas dari tekanan "like and dislike". Tidak tunduk pada serbuan infografis para oportunis. Netral itu merdeka dalam memilih. Bebas dari belenggu amarah dan benci saat memutuskan.

"Gak usah sok bijak, gus". Bijak itu tidak bisa sok sokan. Saya sendiri sering masih naik darah menyaksikan kedholiman. Muak melihat kemunafikan. Esuk dele sore tempe. Kadang tidak kuat juga. Menulis jadi penyaluran. Jika tidak kuat, cukup unfollow. Tak usah unfriend. Cukup membersihkan beranda maya. Tak perlu mengusir dari serambi hati.

Teringat dawuh Abi Muchtar. Manusia itu butuh penjelasan. Tidak mungkin jelas bila masih dikaburkan kebencian. Jelaskan secara persuasif. Tak perlu ofensif. Tak kunjung sadar ? Adukan pada Tuhan. Dialah Pemilik Segala Hati. Mau menang? Tolong manusianya, kalahkan setannya. Mau berhasil? Memohonlah pada Allah. DIA lah Pemilik Segala Kerajaan. (*)

Salam Jembar Sadar. Bismillah

*Penulis : Glory Islamic Muchtar, Pengasuh PonPes Sumber Pendidikan Mental Agama Allah (SPMAA) BALI

TerPopuler