PMII, Kader Pesantren dan Unggulan Bagi NU | Malang Satu
Cari Berita

Advertisement

PMII, Kader Pesantren dan Unggulan Bagi NU

Malang Satu Net
9 Feb 2019


Malang Satu – Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) sudah berkiprah cukup lama sejak 1972 silam keluar dari struktural NU. Dibawah bendera PMII, mahasiswa mampu menjadi garda terdepan untuk mensuarakan aspirasi masyarakat. Mahasiswa, harus mampu menjadi agen perubahan bagi kemajuan bangsa dan negara.

Demikian intisari dari Pelantikan Pengurus Rayon Pembaharuan Al Ghazali Komisariat Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Al Qolam, Kabupaten Malang,  masa khidmat 2019 – 2020, Sabtu (9/2/2019).

Mengangkat tema PMII dan Pesantren, kegiatan pelantikan hari ini juga di isi bincang santai dengan pembicara dari pengasuh pondok pesantren Raudlatul Ulum 2 Putukrejo, Gondanglegi, Kabupaten Malang, KH Madarik Yahya. Kyai Madarik atau akrab di sapa Gus Mad ini, juga pendiri rayon Pembaharuan Al Ghazali Sahabat Jabir.

Menurut Gus Mad, antara PMII dan Pesantren tidak bisa dipisahkan. Karena pendiri PMII merupakan kalangan Kiyai.

“Yang jelas PMII Al Qolam lebih dominan kader-kader nya dari pesantren, saat santri mengikuti kegiatan PMII di luar, jangan pernah melepaskan status santri nya. Dan juga selalu berpamitan kepada pengurus atau pengasuh sesuai prosedur pesantren," terang Gus Mad.

Gus Mad menjelaskan, bahwa pesantren-pesantren kecil itu, merupakan pondok pesantren dan pesantren yang besar adalah Nahdlatul Ulama (NU).
"PMII secara struktural menyatakan independensial sejak tahun 1972, tapi secara kultural PMII tidak akan pernah lepas dari NU. Maka dari itu PMII tidak bisa dipisahkan dengan pesantren," tegas Gus Mad.

Diakhir sesi diskusi, Gus Mad menawarkan aksi nyata kader PMII Al Qolam untuk menyelenggarakan pertemuan dan silaturrahi dengan mendatangkan para pengasuh, atau pengurus pesantren khususnya yang berlokasi di Kecamatan Gondanglegi.

"Saya menawarkan dengan adanya problem kader-kader PMII Al Qolam yang notabane nya para santri, agar menggelar pertemuan yang diisi merancang sebuah wacana dan isu khususnya kalangan pesantren," pungkas Gus Mad yang juga menjadi staf pengajar di kampus IAI Al Qolam Malang. (Aam)