Perkara Baru Dalam Agama : Antara Bid’ah dan Anjuran

Perkara Baru Dalam Agama : Antara Bid’ah dan Anjuran

12 Feb 2019, 20.26
Loading...

Malang Satu – Sebelum Islam datang, perkara baru dalam agama disebut “bid’ah”. Hal ini sebagaimana dijelaskan dalam firman-Nya:
{ورهبانية ابتدعوها ما كتبناها عليهم}
“Dan mereka mengada-adakan rahbaniyyah (tidak menikah dan mengurung diri dalam biara), padahal Kami tidak mewajibkannya kepada mereka” (QS. Al-Hadid: 27).

Ayat di atas menyindir Umar-umat nabi terdahulu yang mengharamkan diri sendiri menikah. Mereka memandang bahwa pernikahan menjadi sebab jauhnya manusia dari Tuhan.

Pernikahan dianggap tidak lebih sekedar memenuhi kebutuhan nafsu belaka. Maka, "ibadah" tidak menikah adalah satu contoh perkara yang bid'ah dalam beragama.

Tidak demikian halnya dengan kita sebagai umat Nabi Muhammad SAW. Perkara baru dalam agama, jika itu baik, maka justru diapresiasi positif. Dan ini sekaligus menjadi kekhususan bagi umat beliau SAW. Dalam hal ini, Rasulullah bersabda:
{من سن في الإسلام سنة حسنة فله أجره وأجر من عمل بها بعده من غير أن ينقص من أجورهم شيئ}
“Barang siapa yang mencontohkan satu perbuatan (sunnah) yang baik dalam Islam, maka ia mendapat pahala dari perbuatannya, dan pahala dari orang-orang yang (meniru) perbuatan itu kemudian, tanpa ada pengurangan ganjaran tersebut, sedikit pun” (HR. Imam Muslim, Ibnu Majah, dan Imam Nasai).

Perkara baru dalam Islam itu –bagi umat Nabi Muhammad– disebut sunnah, bukan “bid’ah”. Dengan catatan, perkara baru dalam agama itu berlandaskan Al-Qur’an atau hadis Nabi.

Hadis tersebut sekaligus menjadi dalil disunnahkan bagi kita untuk memulai hal baru dalam perkara agama, dan ini disebut ibda’ (kreasi), bukan ibtida’ (bid’ah).

Kenyataan ini berbeda dengan umat-umat sebelum kita. Karena semua perkara baru dalam agama mereka disebut bid’ah.

Dengan pemahaman seperti ini, maka tidak heran jika banyak sahabat Nabi yang menghasilkan kreasi baru dalam agama setelah kemangkatan beliau SAW.

Umar bin Khattab mencetuskan Tahun Baru Hijriyah. Usman bin Affan membukukan Al-Qur'an. Para ulama generasi setelah sahabat juga tidak mau ketinggalan. Mereka banyak menghasilkan kreasi dalam agama. Satu yang paling kesohor adalah pembukuan hadis-hadis Nabi.

Waba'du, selama hal itu tidak bertentangan dengan ajaran dalam Al-Qur'an dan hadis Nabi, maka kreasi dalam agama merupakan sesuatu yang dianjurkan. Sebaliknya, segala apa yang berlawanan dengan nas yg sudah jelas, maka itulah hakekat bid'ah yang harus dihindari.

Seperti mengharamkan sesuatu  yang dibolehkan dalam agama, atau menghalalkan yang sebenarnya haram. Itulah makna sabda Nabi yang menyatakan bahwa semua bid'ah itu sesat.

Pertanyaannya, apakah anjuran kreasi dalam agama ini terus berlanjut hingga saat ini?

Tentu. Dan kenyataannya, ulama dalam beda tempat dan waktu pun terus melakukan hal itu. Tradisi tahlilan, dan dzikir berjama'ah masuk katagori kreasi dalam agama. Landasannya jelas, dan tentunya tidak bertentangan dengan ajaran agama.

Jika ada yang menyangsikan bahkan menilai satu amalan itu bid'ah hanya karena belum pernah dicontohkan oleh Nabi, maka jawabannya: "Emang Tahun Baru Islam pernah dicontoh Nabi?!. Emang membukukan Al-Qur'an dan Hadis dilakukan oleh Nabi?? (*)

Wallahu a'lam bissawab.


*Penulis : Dr.Zulfan Syahansyah (Dosen Ahlussunah Wal Jamaah Pasca Sarjana UNIRA Malang)

TerPopuler