Peras Kasek SD, 3 Oknum Wartawan Terancam 9 Tahun Penjara

Peras Kasek SD, 3 Oknum Wartawan Terancam 9 Tahun Penjara

8 Feb 2019, 15.24
Loading...
Malang Satu – Kepolisian Resor Malang meringkus 3 oknum wartawan gadungan usai melakukan pemerasan lembaga pendidikan sekolah dasar di Kabupaten Malang.

Kapolres Malang AKBP Yade Setiawan Ujung, Jumat (8/2/2019) sore usai konfrensi pers mengatakan, diduga tiga oknum wartawan ini tidak hanya sekali melakukan tindak pidana pemerasan.

“Ketiga oknum wartawan ini kita jerat pasal 368 tentang pemerasan. Ancaman hukumannya 9 tahun penjara,” tegas Ujung.

Ketiga oknum wartawan gadungan ini atas nama M.Sayuti (48), warga RT. 02/04 Sumberkradenan, Kecamatan Pakis, Kabupaten Malang. Sayuti kedapatan menerima uang di TKP yakni SDN 3 Asrikaton Pakis. Lalu Yanto (31), warga Dusun Krajan RT 4/1 Desa Asrikaton, Kecamatan Pakis, Kabupaten Malang. Serta, Ahmad Dahri (40), warga Jalan Tambak asri 01/16 RT 15/06 Morokembangan, Kota Surabaya.

Ketiga pelaku dibekuk petugas setelah meminta sejumlah uang pada kepala sekolah SDN 3 Asrikaton Pakis, Pak Muji.

Dalam aksi tersebut, Polisi menyita barang bukti berupa uang tunai Rp.2 juta rupiah. Kartu identitas PWRI (Persatuan wartawan Republik Indonesia) atas nama Ach Dahri. Kartu Pers Seputar Malang atas nama Moch. Suyuti. Kartu Pers Card Radar Nasional Kabiro Kota Batu atas nama Moch. Suyuti. Surat Tugas Pemantau keuangan Negara atas nama Ach. Dahri. Surat Tugas Pemantau keuangan Negara menugaskan saudara Yanto.
Serta, barang bukti berupa 3 KTP atas nama para pelaku pemerasan, 4 buah handpohone :

“Saat menakut-nakuti korbanya, pelaku ini juga mengaku mendapat tugas sebagai lembaga pemantau keuangan negara. Kami masih melakukan pengembangan kasus ini, karena sebelum ditempat sekolah, infonya pelaku juga melakukannya ditempat lain. Suda tiga kali beraksi,” kata Ujung.

Ujung menambahkan, modus yang dilakukan tiga oknum wartawan palsu ini, mendatangi sekolah lantaran ada siswanya yang tertusuk gunting. Agar tidak diberitakan, pelaku meminta sejumlah uang Rp.7,5 juta. Namun oleh korban tidak diberi karena tak punya uang.

Sementara itu, satu dari oknum wartawan gadungan yang tertangkap berdalih, datang ke sekolah untuk mengajukan proposal.

“Agar tidak terulang lagi, kami sering sampaikan ke sekolah dan desa-desa. Supaya masyarakat tidak takut dan melapor jika di datangi oknum-oknum seperti ini. Karena ulah mereka sangat meresahkan dan mencederai profesionalitas wartawan itu sendiri,” pungkas Ujung. (yog)

TerPopuler