Penyebutan NU Radikal Berpotensi Disintegrasi Bangsa

Penyebutan NU Radikal Berpotensi Disintegrasi Bangsa

6 Feb 2019, 18.57
Loading...


Malang Satu – Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) menyayangkan terbitnya buku panduan belajar sejarah untuk Kelas V Sekolah Dasar (SD), yang menyebut Organisasi Kemasyarakatan Islam terbesar di Indonesia, Nahdlatul Ulama (NU) sebagai salah satu organisasi radikal.

PBNU pun bereaksi dengan menggelar rapat, Rabu (6/2/2019). Ikut membahas permasalahan yang bisa mengancam disintegrasi bangsa ini yakni Ketua LP Ma'arif NU Pusat, Z. Arifin Junaidi. Wasekjend PBNU Masduki Baidlawi. Saidah Sakwan selaku Wakil Ketu LP Ma'arif NU, Haryanto Oghie Seketaris LP Ma'arif NU dan Fatkhu Yasik. 

Pada rapat hari ini juga dihadiri dari Kemendikbud yakni Didik Suhardi selaku Sekjen Kemendikbud didampingi Toto Suprianto, Kabalitbang. Serta, Awaluddin Challa dari Kapusburbuk Kemendikbud dan jajarannya.

“Keberatannya bukan hanya soal NU disebut sebagai organisasi radikal saja. Tapi penyebutan itu berpotensi untuk terjadi disintegrasi bangsa,” tegas Ketua LP Maarif NU Pusat, Z.Arifin Junaidi. 

Kata Arifin, NU disebut radikal sudah sangat membahayakan potensi persatuan bangsa. “Pelajaran sejarah, harusnya bisa menumbuh suburkan nasionalisme,” terang Arifin. 

Sementara itu,  Sekretaris Jenderal PBNU Helmy Faizal Zaini menambahkan, istilah tersebut bisa menimbulkan kesalahpahaman oleh peserta didik di sekolah terhadap Nahdlatul Ulama. Organisasi radikal belakangan identik dengan organisasi yang melawan dan merongrong pemerintah, melakukan tindakan-tindakan radikal, menyebarkan teror dan lain sebagainya. Pemahaman seperti ini sangat berbahaya, terutama jika diajarkan kepada siswa-siswi.

“Kami Pengurus Besar Nahdlatul Ulama sangat menyayangkan diksi 'organisasi radikal' yang digunakan oleh Kemdikbud dalam buku tersebut," pungkas Hemly. (yog)

TerPopuler