Pemimpin Harus Berkarakter, tidak Cukup Hanya Baik

Pemimpin Harus Berkarakter, tidak Cukup Hanya Baik

5 Feb 2019, 23.13
Loading...

Malang Satu - Setiap hari di negara ini kita melihat banyak pemimpin. Mulai dari level bawah, menengah, hingga atas. Mereka di pemerintahan, TNI, Polri, dan swasta.

Dari cara mereka memimpin termasuk komunikasi yg disampaikannya, kita banyak belajar. Juga kelihatan karakter aslinya. Itu tidak bisa dibuat-buat, tapi fakta. Apalagi jadi pemimpinnya sudah relatif lama maka pasti terlihat secara nyata sifat aslinya.

Pemimpin yang bagus dan dibutuhkan untuk membangun institusi baik di pemerintahan, TNI, Polri, maupun swasta adalah yg memiliki karakter kuat, tidak plin plan. Dia harus punya sikap dan jati diri yang tangguh. Jadi tidak cukup hanya modal baik saja.

Realitanya di negara ini masih banyak ditemukan pemimpin yg populis, cenderung cari aman dan nyaman. Membiarkan kesalahan anak buahnya karena ingin citranya tetap baik dalam pandangan jajarannya.

Padahal kondisi itu jika dibiarkan, cepat atau lambat akan akan merusak suasana dan situasi di internal institusi yang dipimpinnya. Dampak negatifnya akan membuat kinerja di tempat itu jadi menurun.

Kinerja satu institusi - baik atau buruk - merupakan cerminan pemimpinnya. Umumnya yang pimpinannya berkarakter, kinerjanya baik sebab arah dan tujuan di lembaga tersebut sangat jelas. Dengan begitu orang-orang di dalamnya bersama-sama menuju ke target-target yang telah ditetapkan.

Pemimpin yang berkarakter kuat juga tahu persis menggerakkan jajarannya. Dengan ketegasan sikapnya ditambah berbagai pengalamannya plus kecerdasan baik otak maupun hati, dia dapat mengoptimalkan semua potensi yang ada.

Sebaliknya jika pemimpinnya hanya bermodalkan baik saja tapi tidak berkarakter, tercermin dari hasil kinerjanya. Umumnya rata-rata air, tidak terlalu menonjol. Setelah tidak lagi memimpin di institusi itu, orangnya tidak terlalu dikenang. Jikapun ada hanya sebatas sebagai pemimpin yang baik. Hanya itu.
Jadilah Pemimpin Risk Taker bukan Safety Player
Sementara seorang pemimpin saat mendapat amanah untuk memimpin, selain menjadi teladan dengan menunjukkan contoh nyata berbagai nilai yang positif, untuk kemajuan institusinya harus berani bertindak dan menerima semua konsekuensinya.

Janganlah menjadi pemimpin yang hanya cari aman dan selamat atau safety player, tapi jadilah atasan yang berani mengambil risiko dan bertanggung jawab atau risk taker dari semua keputusannya. Dengan begitu seluruh jajarannya selama bekerja selalu tenang, nyaman, dan selalu berusaha mengoptimalkan kemampuan dirinya sehingga mencapai hasil kinerja yang terbaik.

Ingat, untuk apa jadi pemimpin tapi tidak berprestasi apalagi tidak membawa perubahan yang positif pada organisasi yang dipimpinnya. Berusahalah memimpin dengan hati dan optimal sehingga kepemimpinannya dikenang sepanjang masa meski sudah tidak lagi jadi orang pertama di institusi tersebut.

Semoga ke depan semakin banyak pemimpin berkarakter di negara ini sehingga semua yang kita cita-citakan bersama terwujud. Aamiin ya robbal aalamiin...

Penulis : Dr. Aqua Dwipayana  (Mantan wartawan yang sekarang berprofesi sebagai konsultan komunikasi dan motivator)

TerPopuler