Mengenal Diri, Pintu Mengenal Tuhan | Malang Satu
Cari Berita

Advertisement

Mengenal Diri, Pintu Mengenal Tuhan

Malang Satu Net
9 Feb 2019


Malang Satu – Tatkala Allah berkehendak menciptakan Khalifah yang agung, ditiupkan ruh-Nya ke dalam diri Khalifah tersebut sebagai legalitas jabatan yang diemban.

Sungguh benarlah dalam kajian mukasyafah, Sabda Nabi SAW:
{من عرف نفسه، عرف ربه}
"Orang yang mengenal (hekakat) dirinya, dia pasti mengenal (hakekat) Tuhannya"

Dalam kitab Adab Ad-Dunia wa Ad-Din, karya Imam Mawardi, dijelaskan bahwa Ummil mukminin, sayyidah Aisyah mengatakan: Rasulullah SAW pernah ditanya: "Siapakah orang yang paling mengenal Tuhannya?"
Nabi menjawab: "Yang paling mengenal Tuhannya adalah dia yang paling mengenal dirinya". HR Imam Al-'Ajaluni di kitab Kasyf Al-Khafa'.

Dari sini semakin jelas betapa agung nilai kemanusiaan itu sendiri, dan bisa semakin dimengerti rahasia sujudnya para malaikat di hadapan Adam as, yang tidak lain karena pada diri Adam terdapat Ruh Allah SWT.

Firman-Nya:
{ويسئلونك عن الروح قل الروح من أمر ربي وما أوتيتم من العلم إلا قليلا}
"Dan mereka bertanya kepadamu tentang ruh. Maka katakanlah bahwa itu menjadi urusan Tuhanku. Dan tiadalah kalian diberi pengetahuan tentangnya, melaiankan sedikit" (QS. Al-Isra').

Jangan pedulikan anggapan orang yang melarang berbicara banyak seputar ruh dan kajian tentangnya, karena menganggap bahwa itu menjadi urusan Allah;
{قل الروح من أمر ربي}

Ayat itu turun tatkala Nabi ditanya prihal ruh oleh kaum Yahudi. Dan ditegaskan bahwa Allah hanya memberi sedikit pengetahuan bagi mereka (kaum Yahudi) tentang ruh.

Ayat tersebut bukan larangan untuk membahas seputar rahasia agung apa yang terkandung dalam ruh.
Dan jika ada seorang muslim yang mengira bahwa Rasulullah tidak mengerti hakekat ruh beliau, maka betapa anehnya orang tersebut.

Bagaimana tidak, karena Allah telah menghembuskan ruh sebagai ruhaniyyah ke dalam jasad yang merupakan jasmaniyah; untuk menunjukkan keesaan dan ketuhanan Allah SWT.

Sepuluh alasan berikut menjelaskan bahwa orang yang telah mengetahui hakekat dirinya, dia juga mengetahui hakekat  Tuhannya:

1. Satu kerangka (badan) itu butuh pengatur dan penggerak. Dan ruh adalah pengatur dan penggerak. Alam ini pun membutuhkan pengatur dan penggerak.

2. Tatkala kita mengetahui bahwa pengatur badan itu hanya satu, yakni ruh, maka tahulah kita bahwa pengatur alam semesta ini pun satu; yakni Dzat yang tiada sekutu bagi-Nya dalam mengatur dan menentukan.

3. Ketika kita tahu bahwa jasad ini tiada mungkin bisa bergerak, tanpa ruh, maka yakinlah kita bahwa ada Dzat Yang Maha Berkehendak atas semua yang ada di alam semesta ini. Semua yang ada bergerak dengan ketentuan, keinginan Allah SWT, dalam hal kebaikan, ataupun kejelekan.

4. Ketika kita mengetahui bahwa tiadalah satu apapun dalam tubuh yang bergerak tanpa kendali ruh, maka tahulah kita bahwa tiada benda sekecil apapun, baik di dunia, juga di langit yang bergerak tanpa kendali Allah.

5. Tatkala kita tahu bahwa tiada satu apapun yang lebih dekat antara jasad dan ruh dibanding satu lainnya, tahulah kita bahwa Allah SWT itu sangat dekat dengan segala sesuatu. Tidak ada satu pun yang lebih dekat dengan sesuatu lainnya melebihi kedekatan Allah SWT. Demikian juga sebaliknya.

6. Dan tatkala ruh itu sudah ada sebelum adanya jasad, dan tetap ada setelah ketiadaan jasad, maka begitu pun Allah SWT; Maha Ada sebelum penciptaan makhluk, dan tetap ada setalah tiadanya makhluk. Allah Maha ada dan senantiasa ada. Allah Maha Suci dari ketiadaan.

7. Ketika ruh yang ada di dalam jasad tidak diketahui bagaimana hal ihwalnya, maka demikian juga Allah SWT, Maha Suci dari diketahuinya hal ihwal Allah SWT.

8. Ruh yang ada di dalam jasad tidak diketahui dimananya, maka demikian juga Allah; Maha Suci untuk diketahui dimana-Nya.  Keberadaan ruh tidak bisa didiskripsikan keberadaannya. Ruh hanya ada di dalam setiap jasad. Tiada satu pun jasad yang hidup tanpa ruh. Demikian pula Allah SWT Maha Ada di setiap tempat. Tiada satu tempatpun tanpa Allah SWT. Dan Maha Suci Allah dari menempati ruang dan waktu.

9. Ruh tiada nampak oleh pengelihatan, dan tiada bisa dilukiskan. Maka demikian juga Allah, tidak  bisa tampak oleh pengelihatan.

10. Ruh tiada bisa diraba, ataupun disentuh. Maka Allah pun Maha Suci untuk diindra, dibentuk, serta diraba.

Sepuluh point' di atas merupakan penjelasan hakekat makna hadis Nabi:
{من عرف نفسه، عرف ربه}

Jika ingin lebih mengenali dirimu, maka coba ucapkan "Allah" dalam kesendirian, tanpa menggerakkan lisan, niscaya lafadz jalalah itu akan terucap tanpa gerakan lisanmu; akan terdengar tanpa butuh telinga. Di saat itulah ruhmu yang mengucapkannya. Ruhmu juga yang mendengarkannya.

Rasulullah bersabda:
{إن الله تجاوز لي عن أمتي ما حدثت به أنفسها}
"Sesungguhnya Allah SWT telah memaafkan umatku karena aku atas apa yang diucapkan diri-diri mereka"

Dialah diri (ruh) yang bertutur, sekaligus  mendengarkan tuturan itu. Ruh juga yang tahu apa yang diucapkan oleh diri mereka.

Itulah Tuhanmu yang menemani kamu. Sebagaimana dalam hadis qudsi, Allah berfirman:
{أنا جليس من ذكرني}
"Aku adalah teman bagi orang yang sedang berdzikir"

Inilah derajat Ihsan; beribadah kepada Allah, seakan-akan engkau melihat-Nya.

Dan tatkala engkau telah melihat-Nya, maka tampaklah Allah dalam cerminan hatimu dengan asma-Nya "Ad-Dahir" (Yang Maha Tampak).
Di saat itu, segala yang ada menjadi fana bagimu. Bukankah sesuatu yang baru (hadis) tidak akan mengungguli apa yang dahulu (Qadim).

Maka belum lah mencintai Aku, selama engkau belum bisa fana atas Aku.
Dan belum lah kamu fana atas Aku, sebelum kau engkau bertajalli dengan gambaran-Ku. (*)

*Penulis : Dr.Zulfan Syahansyah (Dosen Ahlussunah Wal Jamaah Pasca Sarjana UNIRA Malang)