Komnas Perlindungan Anak Datangi Korban Pencabulan Guru

Komnas Perlindungan Anak Datangi Korban Pencabulan Guru

18 Feb 2019, 15.07
Loading...

Malang Satu – Ketua Komisi Nasional Perlindungan Anak, Aris Merdeka Sirait, mendatangi Sekolah Dasar Negeri Kauman 3, Kota Malang.

Hal itu guna mendapatkan klarifikasi dan keterangan langsung dari para korban, serta pihak sekolah terkait dugaan pencabulan oknum guru olahraga kepada 20 siswanya ini.

Dalam klarifikasinya tersebut, Aris Merdeka Sirait coba mencari sejumlah fakta terkait perbuatan oknum guru berinisial IM yang mengajar sebagai guru olahraga di sekolah dasar ini. IM saat ini, telah dibebas tugaskan sejak tanggal 29 Januari 2019. Status IM selaku guru, juga telah ditarik oleh dinas pendidikan Kota Malang ke salah satu UPT Pendidikan Kota Malang.

“Informasi yang saya dapat, bahwa ibu kepala sekolah mengakui terjadi peristiwa kejahatan seksual yang dilakukan oleh IM di dua lokasi. Lokasi pertama saat olahraga, kedua di ruang ganti dan di UKS sekolah,” ujarnya Aris Merdeka Sirait.

Dari sejumlah keterangan yang didapatkan dari pihak sekolah, lanjut Aris, tak kurang dari 20 siswa yang mengaku telah mendapatkan perlakuan cabul dari sang guru. Diantaranya mendapatkan perlakukan pelecehan dengan meraba dibagian payudara. Dan bagian vital lainnya saat jam pelajaran olahraga.

“Hal ini senada dengan pengakuan keluarga korban, dan korban sendiri mengakui pada saat proses pemeriksaan di Polres Makota. Itu terjadi bukan hanya memegang payudara tapi juga memegang kemaluan siswa,” ungkap Aris.

Usai melakukan pertemuan di SDN Kauman 3, Aris mendatangi Mako Polres Malang Kota, guna melihat perkembangan penyelesaian kasus yang kini telah masuk ranah hukum pidana.

“Kami menghimbau untuk semua korban jangan takut untuk melaporkan tindakan ini. Komisi Nasional Perlindungan Anak siap melindungi dan mengawal kasus ini,” tegas Aris.

Ia menegaskan, Komnas Perlindungan Anak, tidak akan berhenti untuk membongkar kasus ini. Dan meminta semua pihak untuk kooperatif dan tidak menutup-nutupi kasus yang telah mencoreng dunia pendidikan tersebut.

“Jangan menutup-nutupi perkara ini karena. Dapat dipidana juga, dengan pasal 78 Undang-undang Perlindungan Anak nomor 35 tahun 2014. Yang menyebutkan bahwa setiap orang yang mengetahui terjadinya kekerasan seksual, ancaman kekerasan, bujuk rayu, tindakan-tindakan kekejaman pada anak, mengetahui tapi membiarkan, maka itu dianggap ikut serta melakukan pelanggaran terhadap anak,” Aris mengakhiri. (aga)

TerPopuler