Jadilah Pemimpin Yang Disegani, Bukan Ditakuti

Jadilah Pemimpin Yang Disegani, Bukan Ditakuti

6 Feb 2019, 12.10
Loading...

Malang Satu - Kasihan Bapak itu, di depan dia semua bawahannya patuh dan terkesan mengikuti perintahnya, namun di belakangnya seluruh orang membicarakannya secara negatif bahkan mencibir. Jajarannya bersikap seperti itu karena sifatnya sok kuasa, arogan, sombong, dan tidak menghargai orang lain terutama para anak buahnya. Jadi kami bawahannya takut, bukan karena segan sama dia. Kalau sudah tidak memimpin lagi pasti pada cuek dan tidak menghargai Bapak tersebut.

Ungkap beberapa teman senada tentang atasannya saat menyampaikan curahan hati (curhat) mereka ke saya. Akibatnya mereka kerjanya dalam tekanan dan tidak ikhlas. Kerugiannya luar biasa, tidak hanya perusahaan, tetapi juga seluruh pegawai baik atasan maupun bawahannya.

Saya hanya menyimak semua info yang disampaikan tersebut sangat prihatin. Ketika mereka curhat, saya membayangkan betapa tidak nyamannya bekerja dengan pimpinan yang seperti itu. Dapat dipastikan kinerja perusahaannya tidak akan maksimal karena suasana di internal kurang kondusif.

Dengan kondisi seperti itu - pimpinannya tidak mengubah perilaku negatifnya - saya yakin dia tidak akan lama memimpin di perusahaan tersebut. Hanya masalah waktu semua hal yang kurang bagus itu infonya akan sampai ke pemegang saham. Seiring itu, karena tidak mencapai target maka pemimpinnya pasti diganti.

Tetap Berprestasi agar tidak Diberi Sanksi

Kepada teman-teman yang curhat saya sarankan agar sabar dan tetap semangat menuntaskan seluruh pekerjaannya. Tunjukkan prestasi masing-masing sehingga tidak ada celah bagi atasannya untuk menegur dan memberi sanksi.

Di samping itu tetap dengan khusuk mendoakan atasannya agar berubah jadi baik. Jangan berdoa sebaliknya. Harus diyakini bahwa kekuatan doa sangat dahsyat apalagi jika dilakukan banyak orang.

Perilaku seperti itu jauh lebih baik daripada turut larut dalam suasana kesedihan di kantornya. Selain tetap mempertahankan kinerja bahkan meningkatkannya, sikap negatif atasannya agar dijadikan motivasi yang kuat untuk berprestasi.

Pemimpin seperti itu - sok kuasa, arogan, sombong, dan tidak menghargai orang lain terutama para anak buahnya - pantas dikasihani. Dia pada dasarnya telah gagal memimpin karena komunikasinya buruk sekali.

Pemimpin agar Introspeksi Diri

Paling mendasar sebagai pemimpin, dia tidak memiliki kemampuan memimpin karena perilakunya sama sekali tidak menunjukkan keteladannya. Akibatnya para bawahannya merasa tertekan dengan sikapnya tersebut.

Padahal setiap pemimpin di manapun berada harus selalu jadi teladan. Itu seperti nasihat yang sejak puluhan tahun lalu disampaikan Bapak Pendidikan Nasional Ki Hadjar Dewantara dan masih relevan sampai saat ini. Pesannya itu adalah Tut wuri handayani, Ing ngarso sung tulodo, Ing madyo karso.

Kepada para pemimpin agar instrospeksi diri. Berusahalah untuk menjadi atasan yang disegani bukan ditakuti. Dengan begitu di manapun berada selalu disayang dan dekat dengan seluruh bawahannya.

Ingat, selain di dunia, kelak di akhirat semua pemimpin akan diminta pertanggungjawabannya oleh Sang Pencipta. Jika tidak amanah saat memimpin apalagi bersikap dzolim pasti akan mendapat balasan yang setimpal.

Semoga ke depan semakin sedikit pemimpin yang ditakuti sehingga semua pegawai merasa nyaman dan sungguh-sungguh dalam bekerja. Aamiin ya robbal aalamiin. (*)

* Penulis : Dr. Aqua Dwipayana (Mantan Wartawan Sekaligus Konsultan Komunikasi danMotivator)

TerPopuler