Imlek, Gus Dur dan NU di Mata Bunsu Anton

Imlek, Gus Dur dan NU di Mata Bunsu Anton

4 Feb 2019, 00.14
Loading...

Malang Satu - Rohaniawan umat Khonghucu, Bunsu Anton Triyono mengatakan, banyak orang yang salah kaprah memaknai Tahun Baru Imlek.

“Banyak orang yang salah kaprah tentang Imlek. Padahal Imlek ini karunia dari Tuhan Yang Maha Esa atas datangnya musim semi. Jika kita di Indonesia, musim semi adalah musim diawalinya bercocok tanam. Karena negara kita negara agraris. Tuhan meletakkan Indonesia di tengah garis khatulistiwa, sehingga selalu dapat sinar matahari. Imlek, menyambut musim semi dan syukur atas karunia Tuhan Yang Maha Esa tersebut,” terang Bunsu Anton, Minggu (3/2/2019) malam pada malangsatu.net.

Ditanya peranan Gus Dur akan perayaan Tahun Baru Imlek bagi warga Tionghoa ini, Bunsu Anto menjelaskan, yang perlu diketahui khalayak, Gus Dur tidak mensahkan Imlek. Tapi mengembalikan kita sebagai warga negara pemeluk agama Khonghucu, dan itu diakui Undang-Undang.

“Kami umat Khonghucu sangat berterima kasih pada Presiden RI ke empat Gus Dur. Maka dari itu, kami selalu bersinergi dan mendorong untuk membentuk Gus Durian di Malang,” terang Bonsu Anton.

Gus Durian adalah satu kelompok yang mengaplikasikan persatuan dan kesatuan tanpa memandang status dan agama seseorang.

Bunsu Anton yang juga menjabat Wakil Ketua Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Kabupaten Malang ini membeberkan, Gus Dur adalah simbol kerukunan bagi umat beragama di Indonesia. Ditanya hubungan umat Khonghucu dengan warga Nahdliyin atau NU, Bunsu Anton pun mengaku sangat baik.

“Luar biasa. Luar biasa, kita ikut bersinergi dengan sahabat-sahabat kami di NU. Kami berusaha meningkatkan persahabatan dan kerukunan, menciptakan situasi yang kondusif. Karena NU itu luar biasa,” tegas Bunsu Anton.

Pria 78 tahun yang masih menjabat Humas Klenteng Eng An Kiong, Kota Malang itu menerangkan, NU punya filosofi kehidupan yang sangat tinggi. Dengan gambar bumi dan di ikat dengan tali, maknanya sangat dalam dan luar biasa.

“Lambang NU itu filosofinya tinggi. Dengan gambar bumi dan diikat tali, buka rantai loh, tapi ini tali dari jerami. Kenapa kok bukan rantai, padahal rantai lebih kuat dari jerami. Ini filosofi yang sangat tinggi. Sehingga, NU punya toleransi yang tinggi, tali kan lentur beda dengan rantai,” bebernya.

Bunsu Anton melanjutkan, di usianya yang sudah semakin sepuh, dirinya berharap sahabat-sahabatnya dari kalangan NU, harus bisa menciptakan perdamaian.

“Saya berharap kawan-kawan saya di NU bisa menjadi pemersatu bangsa dan dunia.  Indonesia harus menjadi suar perdamaian dunia, ini luar biasa ini, Insya Allah kami yang sudah tua ini, bisa melihat dan menyaksikan kawan-kawan dari NU sebagai suar perdamaian dunia,” pungkas Bunsu Anton. (yog)

TerPopuler