Haul Kedua KH Badruddin Anwar – Sentuhan Kyai, Obat Bagi Santri

Haul Kedua KH Badruddin Anwar – Sentuhan Kyai, Obat Bagi Santri

5 Feb 2019, 20.41
Loading...

Malang Satu – Dunia pesantren memahami pendidikan bukan semata proses transfer ilmu dari guru ke santri. Pembentukan karakter (character building), revolusi mental, dan pembinaan akhlak menjadi fokus utama, ketimbang proses transfer ilmu.

Dalam proses itu seorang guru harus menyadari sepenuhnya bahwa, hubungan guru dan santri bukan sekedar lahiriyah saja. Ada hubungan batin yang harus disambung. Hati santri dan ustadz atau kyai harus nyambung.

Dalam membina hubungan batin, kyai menggunakan banyak cara. Untaian doa di setiap waktu untuk santrinya, utamanya di waktu mustajab, pasti dilakukan oleh setiap Kyai. Almaghfurlah #kyaibad figur kyai yang begitu gigih membina hubungan batin dengan santri-santrinya.

Berbagai doa dan wirid dilakukan hanya untuk mendoakan agar para santrinya bisa menjadi manusia yang sukses dunia dan akhirat. Saya terbiasa keluar masuk kamar pribadi Kyai Bad. Pernah beberapa tahun lalu, beliau sakit dan diopname di salah satu Rumah Sakit di Kota Malang.

Saat itu, beliau mencari lembaran doa dan menyuruh saya pulang ke pondok untuk mengambil di kamar beliau. Walau terbiasa masuk ke kamarnya, tetap saja saya kebingungan. Sebab, tidak pernah saya menyentuh apapun yang di kamar tanpa diperintah. Buku-buku doa dan wirid begitu banyak.

Lembaran-lembaran doa dan wirid entah berapa puluh jumlahnya. Dalam lembaran-lembaran itu, saya menemukan beberapa lembar kertas yang bertuliskan nama-nama santri yang suka melanggar. Dulu, saya bertanya-tanya untuk apa kyai meminta nama-nama santri yang melanggar. Ternyata ini jawabnya. Didoakan dalam keheningan malam. Boleh jadi doa yang dipanjatkan kyai tidak langsung terkabul saat para santri masih di pondok. Tetapi, biasanya saat mereka sudah pulang ke masyarakat bisa melihat hasil dari doa beliau.

Mengenai cara beliau berinteraksi dengan santri juga menarik untuk dikupas. Kyai yang selalu berjalan mengelilingi pondoknya setiap hari ini terbiasa menyapa para santri. Ada saja hal yang ditanyakan; siapa namamu, kelas berapa, anak mana, atau mungkin perbincangan sirri yang kelak akan berpengaruh pada anak tersebut.

Beliau juga terbiasa memegang pundak santri sambil diajak berjalan. Memegang tangan santri juga sering dilakukan, sembari berkata: awakmu iki lapo ae (Kamu ngapain saja?). Sentuhan langsung semacam ini diyakini oleh para santri sebagai transfer energi positif dari kyai ke santri.

Di samping, secara psikologis hal itu sangat berdampak baik bagi hubungan santri dan kyai. Coba bayangkan, kalau ada kyai yang begitu menjaga jarak dengan santrinya? Maka, tidak akan terjalin hubungan batin yang sedemikian erat.

Tidak jarang pula kyai memperhatikan persoalan sederhana dari para santrinya. Di tahun 2009an, pernah saya murus alias mencret. Saat itu kyai lewat depan kamar saya. Lalu memanggil saya. Arapah kakeh (kamu kenapa?). Murus, kyai; jawabku. Seketika itu beliau meminta Bu Nyai untuk memberikan obat mencret ke saya. Alhamdulillah manjur.

Beliau juga memiliki kebiasaan menyuruh santri membeli makanan (nasi goreng, pecel atau lainnya) dan kemudian si santri diajak makan bersama beliau. Dalam suasana makan bersama, kyai sambil bertanya tentang ini dan itu kepada santri tersebut. Boleh jadi, ada isyarah yang memang dikhususkan kepada santrinya dalam acara makan bersama itu.

Pendek kata, siapapun yang pernah diperlakukan seperti itu oleh kyai, pasti akan sangat merindukan beliau. Rindu disentuh langsung. Rindu didawuhi. Rindu dimarahi. Rindu diajak makan bersama. Rindu digandeng tangan. Rindu mendengar suara beliau. Bahkan, rindu untuk melihat wajah beliau. Tapi, jangan khawatir sobat. Saya haqqul yaqin bahwa beliau akan datang mengunjungi santrinya satu persatu dalam mimpi. Teguran, nasehat, dan arahan akan disampaikan oleh beliau lewat mimpi. Lahul Fatihah. (*)

*Penulis : Gus Helmi Nawali (Pesantren Cahaya)

TerPopuler