Soal Potensi Radikalisme, Jokowi Sambut Baik Usulan GP Ansor

Soal Potensi Radikalisme, Jokowi Sambut Baik Usulan GP Ansor

11 Jan 2019, 23.38
Loading...

Malang Satu - Pertemuan jajaran pengurus pusat GP Ansor dengan Presiden Jokowi turut membahas potensi munculnya kelompok-kelompok radikal di beberapa daerah di Indonesia jelang Pemilu 2019. Kelompok ini dianggap memiliki tujuan terselubung, yakni mendirikan negara khilafah.

Menanggapi hal tersebut, Kepala Kantor Staf Kepresidenan Moeldoko menegaskan pihaknya akan menindaklanjuti laporan terkait kelompok radikal tersebut.

"Ya, tadi rekan-rekan GP Ansor memberikan masukan kepada presiden atas berbagai situasi saat ini, di antaranya persoalan radikalisme yang perlu jadi perhatian bersama dan atensi bagi presiden," kata Moeldoko di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta Pusat, Jumat (11/1/2019).

"Ini sebuah upaya bagi presiden membuka pintu selebar-lebarnya kepada siapa pun untuk memberikan masukan atas hal-hal positif yang harus ditindaklanjuti ke depan," lanjutnya.

Dia pun menegaskan, pemerintah dan GP Ansor tak akan memberikan ruang bagi kelompok-kelompok radikal lantaran kelompok ini dapat menggangu masa depan anak-anak karena menanamkan paham yang salah.

"Begitu diberi toleransi, maka dia akan berkembang. Begitu dia berkembang, ini akan mengganggu masa depan anak bangsa Indonesia," jelasnya.

Karena itu, dia mengingatkan agar kelompok-kelompok radikal itu tak lagi melakukan kekacauan di masyarakat dan memanfaatkan situasi transisi demokrasi yang akan berlangsung dalam waktu dekat.

"Saya pribadi ingin mengingatkan, siapa pun yang bermain-main dengan itu, yang menggunakan kelompok radikal untuk kepentingan kelompok praktis, maka ini akan menjadi backfire. Jangan main-main dengan itu," pungkasnya.

Sementara Itu, Ketua GP Ansor Malang, Husnul Hakim Syadad, menambahkan, kebijakan positif dari pemerintah terkait bahaya paham radikalisme sangat penting dan dinantikan bersama.

“Secara garis komando kami menanti apa yang kini disampaikan GP Ansor Pusat pada pihak Istana. Bagaimanapun juga, potensi radikalisme bisa mengancam keutuhan Negara dan Bangsa,” Husnul mengakhiri. (yog)

TerPopuler