Makam Panglima Perang Diponegoro di Pugar

Makam Panglima Perang Diponegoro di Pugar

11 Jan 2019, 21.57
Loading...

Malang Satu - Pemerintah Desa Jenggolo, Kecamatan Kepanjen, Kabupaten Malang bersama masyarakat setempat, memugar makam  Syekh Abdurachman.

Pemugaran itu guna mempercantik dan memperluas bangunan disekitar makam tokoh penyebar agama Islam yang paling disegani warga setempat.

Siapa sebenarnya Syekh Abdurachman itu? Kepala Desa Jenggolo, H. Lisdiyanto, mengatakan,  Syekh Abdurrachman adalah salah satu Panglima Perang Pangeran Diponegoro yang turut menyebarkan ajaran Agama Islam di Pulau Jawa sisi tenggara.

"Sekitar tahun 1830 tepatnya setelah Perang Diponegoro berakhir, beliau beralih ke sini (Desa Jenggolo) untuk menyebarkan agama dan hingga akhirnya bermukim," ujar Lisdiyanto, ditemui di sekitar makam, Kamis (10/1/2019) siang.

Saat ini, masyarakat Desa Jenggolo masih banyak yang melakukan ziarah ke Makam Syekh Abdurrachman. Tepatnya, Makam Syekh Abdurrachman berada di areal Tempat Pemakaman Umum (TPU) Desa Jenggolo, Kecamatan Kepanjen.

Menurut Lisdiyanto, keberadaan makam yang sangat dikeramatkan warga, selalu diperingati atau digelar Haul Akbar setiap tahunya.

"Yang terakhir sudah Haul ke 9. Itu sebagai bentuk penghormatan masyarakat sini (Desa Jenggolo) kepada Almarhum Mbah Syekh Abdurrachman. Hal itu karena beliau merupakan salah satu tokoh masyarakat dan tokoh yang menyebarkan ajaran Agama Islam di Pulau Jawa sisi tenggara, termasuk Desa Jenggolo," bebernya.

Kata Lisdiyanto, peziarah yang datang tidak hanya dari warga desa setempat saja, namun juga tidak jarang, peziarah yang datang berasal dari daerah lain di luar Malang. Untuk itu, ia menyebut, pemugaran yang dilakukan pada makam Syekh Abdurrachman juga dimaksudkan agar peziarah yang datang lebih merasa nyaman.

"Peziarahnya tidak dari Malang saja mas, banyak juga yang dari luar Malang. Maka dari itu, pemugaran juga dimaksudkan agar peziarah yang datang bisa merasa lebih nyaman," imbuhnya.

Hingga saat ini, masyarakat meyakini, bahwa sosok Syekh Abdurrachman masih dirasakan aura dan karismanya hingga kini. Lisdiyanto menerangkan, hal itu adalah salah satu faktor sehingga muncul kesepakatan oleh warga dengan Pemdes Jenggolo untuk memugar Makam Syekh Abdurrachman.

"Warga meyakini, karisma beliau (Syekh Abdurracman) hingga kini masih ada. Hal itu yang melatarbelakangi pemugaran makamnya. Dengan nasehat dari tokoh agama saat ini dan juga masyarakat, akhirnya kami lakukan musyawarah. Kemudian timbul kesepakatan untuk memugar makam Syekh Abdurracman," paparnya.

Biaya pemugaran yang diperkirakan hingga mencapai biaya Rp.200 juta tersebut, berasal dari swadaya masyarakat dan hasil dari tanah kas desa (tanah bengkok). Pemugaran yang telah berjalan selama 3 bulan tersebut, ditargetkan selesai pada bulan Maret mendatang.

Setelah pemugaran selesai nanti, ia beserta jajaran Pemdes lainnya berencana untuk mengajukan areal Makam Syekh Abdurrachman ke Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) Kabupaten Malang untuk bisa dijadikan sebagai salah satu wisata religi di Kabupaten Malang.

"Rencananya memang ke arah situ, kami juga berharap, nantinya bisa dijadikan sebagai salah satu wisata religi di Kabupaten Malang, dengan ada agenda rutin yang dilaksanakan setiap tahunnya," ujarnya.

Ia mengatakan, kedepan, areal Makam Syekh Abdurrachman dengan luas 25 m persegi tersebut akan dipugar semuanya. "Saat ini yang dipugar masih bangunan utamanya saja, sekitar 10 meter persegi. Ke depan rencananya seluruh arealnya akan kami pugar. Agar peziarah juga merasa lebih nyaman," pungkas Lisdiyanto. (yog)

TerPopuler