Jurnalis Malang Raya, Tuntut Presiden Cabut Remisi Pembunuh Jurnalis

Jurnalis Malang Raya, Tuntut Presiden Cabut Remisi Pembunuh Jurnalis

25 Jan 2019, 17.04
Loading...

Malang Satu – Puluhan jurnalis di Malang Raya, yang tergabung dalam sejumlah organisasi profesi. Seperti AJI, IJTI, dan PWI. Melakukan aksi solidaritas, guna menuntut dicabutnya remisi yang diberikan Presiden Joko Widodo. Kepada otak pembunuhan jurnalis di Bali.

Aksi puluhan jurnalis, yang dilakukan di depan Balai Kota Malang, pada Jumat (25/1/2019). Diawali dengan berjalan mundur dari jalan Gajamada menuju Balai Kota Malang. Sebagai bentuk simbol, mundurnya demokrasi dan kebebasan pers di negeri ini.

Dengan membawa sejumlah poster tuntutan dan kecaman, puluhan jurnalis dari berbagai media ini. Menuntut agar Presiden Joko Widodo, untuk segera mencabut remisi yang diberikan kepada I nyoman Susrama, yang merupakan otak pembunuhan jurnalis Radar Bali, Gede Bagus Narendra Prabangsa, yang terbunuh, usai memberitakan praktek korupsi yang dilakukan I Nyoman Susrama.

“Cabut remisi otak pembunuh jurnalis.” Teriak para jurnalis, dalam aksinya.

Dalam pernyataan sikapnya, para jurnalis ini. Menilai keringanan hukuman yang diberikan Jokowi ini, merupakan langkah mundur atas penegakan hukum kasus pembunuhan jurnalis. Sekaligus menjadi preseden buruk bagi perjuangan kemerdekaan pers dan demokrasi.

Menurut Abdul Malik, kordinator aksi, menilai remisi seumur hidup menjadi 20 tahun kepada I Nyoman Susrama, bisa saja setelah menjalani hukuman akan kembali menerima keringanan dan selanjutnya menerima pembebasan bersyarat.

“Kami sadari, saat ini. Penegakan hukum kepada kasus kekerasan jurnalis di negeri ini masih sangat lemah. Kami menuntut Presiden, untuk serius mencabut remisi ini.” Ujarnya.

Untuk diketahui Susrama diadili atas kasus pembunuhan terhadap Prabangsa, sembilan tahun lalu. Prabangsa dibunuh terkait berita dugaan korupsi dan penyelewengan yang melibatkan Susrama yang dimuat Harian Radar Bali, Jawa Pos Grup dua bulan sebelumnya.

Susrama ditahan sejak 26 Mei 2009. Majelis hakim Pengadilan Negeri Denpasar pada 15 Februari 2010 menyatakannya terbukti bersalah menjadi otak pembunuhan sehingga divonis penjara seumur hidup.

Namun remisi ini, telah mengusik rasa keadilan bagi keluarga korban, juga jurnalis di Indonesia. Keringanan hukuman bagi pelaku, dikhawatirkan akan menyuburkan iklim impunitas. Para pelaku kekerasan tak jera dan bisa memicu terjadi kekerasan berikutnya.

“Kami juga berharap masyarakat untuk ikut berpartisipasi menuntut pencabutan remisi pada presiden, agar pelaku kekerasan pada jurnalis jera” imbuhnya.

Aksi solidaritas ini, juga dilakukan serentak  oleh jurnalis di sejumlah daerah di Nusantara. Sebagai bentuk keprihatinan atas mundurnya demokrasi di negeri ini. Yang dinilai mengancam kebebasan pers.(aga)

TerPopuler