Cerita Sendang Duwur, Dibalik Nama UNIRA Malang

Cerita Sendang Duwur, Dibalik Nama UNIRA Malang

17 Jan 2019, 16.58
Loading...

Malang Satu – Bermula dari sebuah kunjungan pengasuh Pesantren Roudlotut Thulab Sendang Duwur Lamongan, KH. Salim Azhar ke Universitas Islam Raden Rahmat di penghujung tahun 2018 lalu. Terungkaplah sejarah panjang dibalik nama Lembaga Pendidikan Unira Malang. Yang diungkapkan oleh Sosok Kyai  berpenampilan sederhana dan ramah, yang merupakan kawan lama dari pendiri Unira Malang KH. Mahmud Zubaidi.

Dari sejumlah cerita, nampaknya, Kyai Mahmud Zubaidi menaruh kesan khusus dengan sosok yang menjadi identitas (simbol) penting dari Pesantren Roudlotut Thulab yang di asuh oleh KH. Salim Azhar (Rois Syuriah NU Lamongan) ini.

Pesantren tersebut berada di desa Sendang Duwur, suatu nama desa yang diambil dari sosok wali kharismatik yang pernah hidup di era (transisi) akhir kejayaan Majapahit dan awal kejayaan Demak. Sunan Sendang Duwur, begitu masyarakat sekitar sejak dahulu menyebutnya.

Bagi Kyai Mahmud Zubaidi, sosok Sunan Sendang Duwur atau yang bernama asli Raden Nur Rahmat ini, memberikan banyak inspirasi pemikiran yang konstruktif bagi dunia pendidikan yang memang tengah ditekuni oleh beliau.

Salah satunya, Sunan Sendang Duwur atau Raden Nur Rahmat dianggap telah berhasil mengimplementasikan satu konsepsi yg cukup terkenal di kalangan Nahdliyyin, yakni Al muhafadhotu 'ala Qodimissholih wal akhdhu bil jadidil ashlah (menjaga tradisi lama yg baik, dan menggali hal baru yg relevan dengan semangat perkembangan zaman).

Sunan Sendang Duwur atau Raden Nur Rahmat,  dalam metode penyebaran ajaran Islam kala itu mengajarkan untuk menjaga beragam tradisi leluhur Jawa. Salah satunya, tampak dari bangunan fisik masjid dan areal pemakaman beliau yang cenderung bernuansa khas Jawa kuno dan erat dengan corak arsitektur Hindu-Budha yang menjadi agama mayoritas Majapahit saat itu.

Pada sela-sela diskusi, Kyai Salim Azhar mengungkapkan hal yang sama sekali baru bagi kami.  Bahwa  Kyai Mahmud Zubaidi pernah menyampaikan ke beliau, nama Sekolah Tinggi Raden Rahmat yang di arsiteki oleh beliau rupanya terinspirasi dari dua tokoh besar penyebar agama Rosul di tanah Jawa (Raden Rahmat atau Sunan Ampel/Bong Swie Hoo dan Raden Nur Rahmat/Sunan Sendang Duwur). Kyai Mahmud Zubaidi memilih merangkumnya menjadi satu nama Raden Rahmat. Tujuanya, untuk menyatukan inspirasi dan ide-ide besar dari kedua tokoh tersebut.

Penulis kemudian ingat, bahwa kedua tokoh ini (Raden Rahmat atau Sunan Ampel/Bong Swie Hoo dan Raden Nur Rahmat/Sunan Sendang Duwur) meski hidup di abad yang sedikit berbeda (1400 dan 1500 Masehi), namun memiliki ciri khas yang sama dalam ranah pemikiran. Hal ini menjadi tidak begitu aneh karena Raden Nur Rahmat atau Sunan Sendang Duwur, merupakan murid dari Sunan Bonang yang tak lain adalah putra Sunan Ampel (Raden Rahmat).

Saat Majapahit mulai runtuh akibat konflik internal keluarga kerajaan dan di gong-i oleh serangan besar-besaran  Demak ke Trowulan, nyaris seketika rupanya turut merubah peta kekuasaan Islam kala itu. Demak tiba-tiba muncul sebagai kerajaan yang cukup besar dan memang masih di pimpin oleh trah Brawijaya penguasa Majapahit. Raden Patah namanya.

Serangan Demak terhadap Majapahit bukannya tanpa keritik, bahkan sosok Raden Patah penguasa Demak memperoleh protes keras dari sosok Nyi Ageng Manila yang tak lain adalah istri dari Sunan Ampel. Ia dianggap telah lalai dengan ajaran yang pernah ditanamkan oleh sunan Ampel agar selalu menjaga hal lama yang baik tanpa merusak meski ada keinginan merubah.

Kembali ke kisah Sunan Sendang Duwur. Penyebaran Islam di era Demak mengalami perkembangan  cukup pesat karena kekuasaan telah dipegang. Namun yang jarang terkuak dalam proses penyebaran Islam kala itu, adanya upaya purifikasi ajaran Islam dengan membumi hanguskan ajaran-ajaran kuno yang dianggap tidak baik bagi keimanan seseorang.

Rombongan puluhan kuda pembawa gerobak lontar-lontar kuno atau teks-teks kuno Jawa sedang melintasi jalur Majapahit – Demak yang melewati area bawah perbukitan Sendang Duwur. Mendengar itu, sunan Sendang Duwur berinisiatif untuk menghentikan rombongan tersebut yang disinyalir akan menyerahkan lontar-lontar kuno itu untuk di bakar atas titah penguasa keagamaan Demak.

 Sunan Sendang Duwur menganggap bahwa teks-teks kuno tersebut tidak semuanya berisi ajaran yang sesat atau tidak baik bagi keimanan seseorang. Raden Nur Rahmat beranggapan bahwa, kearifan pemikiran leluhur Jawa kuno juga patut memperoleh apresiasi karena setiap produk pemikiran yang muncul adalah hasil kontemplasi dan perjumpaan berbagai peristiwa-peristiwa ilahiah yang mungkin saja dialami oleh orang-orang terdahulu.

Bagi Raden Nur Rahmat, Islam hadir tidak harus memberangus segala tradisi baik pemikiran atau kebudayaan yang lebih dulu ada. Hadirnya  agama, bukan untuk meluluhlantakkan peradaban yang telah lebih dulu ada. Agama dapat hadir untuk mengisi ruang-ruang kosong yang belum terisi. Agama tidak selalu tentang merubah keadaan lama yang mendapat cap jahiliah dan sesat. Agama juga tentang pisau analisis untuk memilah dan memilih, mana-mana saja serpihan-serpihan tradisi kuno yang Arif yang tidakt bertentangan dengan prinsip-prinsip ketauhidan.

Setelah perdebatan yang panjang, akhirnya sunan sendang memperoleh ijin untuk memilah dan memilih lontar atau teks kuno tadi. Sehingga, banyak teks kuno yang dapat terselamatkan dari upaya purifikasi ajaran agama saat itu.

Ajaran tentang menjaga perdamaian antar pemeluk agama, antar suku dan ras selalu dijaga oleh beliau terutama di kawasan Sendang Duwur. Areal ini tergolong kawasan yang selalu teduh bagi setiap perbedaan.

Selain memang tanah perdikan, kawasan ini juga menjadi percontohan kala itu tentang bagaimana membangun keharmonisan antar beragam tradisi keagamaan. Arsitektur Jawa kuno tetap dipelihara, tradisi dan ritus keagamaan jawa tetap terjaga dengan berbagai strategi akulturasi yang ada. (*)

Penulis: Muhammad Imron M.AP
Dekan Fakultas Ekonomi dan Ilmu Sosial (FEIS) UNIRA Malang

TerPopuler